Cari Blog Ini

Memuat...
Loading...

Senin, 13 Desember 2010

Menjadi manusia unggul yang survive

Dengan perkembangan jumlah penduduk di muka bumi pada saat ini yang hampir mencapai 6,5 milyar(banyak ya sob :-D), sangat ironis ketika justru terjadi kesenjangan sosial ekonomi yang makin menganga. yang tidak berdaya semakin tidak berdaya dan yang berdaya semakin mampu mengakumulasikan kekuatan modalnya sehingga menjadi kekuatan yang sukar ditandingi. inilah dampak globalisasi di bidang ekonomi. dalam kondisi seperti ini, maka bagi suatu bangsa tidak ada jalan lain kecuali harus mempersiapkan masa depannya sendiri dengan upaya yang harus semakin serius, bila bangsa tersebut menghendaki agar tetap survive dalam era seperti itu.

dalam konteks individual, era globalisasi telah membawa manusia memasuki era individualisme dan era kompetisi yang sangat ketat yang menjurus pada terjadinya zero zum game (yang menang hidup dan yang kalah mati). kompetisi nya tidak hanya pada kekuatan modal dan kecerdasan semata, tapi juga pada kegigihan (daya juang), kesabaran dan daya tahan (survival) dalam sebuah kompetisi yang panjang dan penuh tantangan .

dalam konteks moral dan nilai-nilai luhur agama, era globalisasi juga telah membawa manusia pada peradaban dunia yang tanpa mengenal batas. kebudayaan telah berkembang menjadi peradaban lintas negara yang cenderung melindas nilai-nilai kearifan lokal. pelanggaran terhadap nila-nilai moral dan etika bukan lagi menjadi tabu, tapi bahkan telah berubah menjadi sebuah kebanggaan.

http://alvakry.blogspot.com/

CIRI-CIRI MANUSIA UNGGUL

1. Keimanan Yang Utuh

Keimanan kepada Allah swt adalah paksi pembinaan negara dan ummah. Dengan keimanan itu akan lahirlah individu yang unggul dan masyarakat yang berbudi luhur, berdisiplin dan beramanah demi kebaikan dunia dan akhirat. Allah swt berfirman dalam surah al-Asr:
' Demi masa sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian kecuali orang yang beriman dan beramal salih yang berpesan dengan kebenaran dan berpesan dengan kesabaran'.
( Surah al-Asr : 1-3 )
lam ayat ini Allah swt menjelaskan bahawa manusia yang beruntung ialah mereka yang beriman dan beramal salih.
Beriman kepada Allah adalah proses peralihan jiwa manuisa daripada menganggap dirinya bebas daripada sebarang kuasa dan ikatan serta tanggungjawab kepada ketundukan mengaku tanpa syarat bahawa tiada ýTuhan melainkan Allah dan Muhammad itu Rasulullah. Iman merangkumi tiga unsur utama, pengetahuan yang mendalam, kepercayaan yang jitu dan keyakinan yang teguh.
Ketiga-tiga unsur ini akan membentuk iman yang kukuh yang menjadi tonggak kekuatan ruhaniyah yang cukup kental untuk membina jiwa dan jasmani manusia. Keteguhan iman juga merupakan penghalang daripada melakukan kejahatan dan maksiat.

2. Pelaksanaan Amal Ibadat

Keimanan tanpa ketaatan melalui amal ibadat adalah sia-sia. Seseorang yang berperibadi unggul akan tergambar jelas keimanannya melalui amal perbuatan dalam kehidupan sehariannya. Bahkan jika dikaji tujuan Allah menjadikan manusia itu sendiri ialah supaya beribadat kepada-Nya. Firman Allah swt :
' Tidak Aku ciptakan jin dan manusia itu melainkan untuk beribadat'.
( Surah az-Zariat : 56 )

Ibadat adalah bukti ketundukan seseorang hamba setelah mengaku beriman kepada Tuhannya. Ibadat yang dimaksudkan di sini termasuklah ibadat khususiah yang menyentuh fardhu ain dan juga fardhu kifayah yang merangkumi hubungan manusia sesama manusia.
Justeru itu, bagi individu yang berperibadi unggul, seluruh hidupnya baik hubungannya dengan Pencipta ataupun masyarakat adalah dianggap ibadat. Allah swt berfirman:
' Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman iaitu orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, orang yang menjauhkan dirinya (dari perbuatan) yang tidak berguna, orang yang menunaikan zakat dan orang yang menjaga kehormatannya kecuali terhadap isteri-isterinya atau hamba yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela'.
( Surah al-Muk
minun : 1-6 )

3. Akhlak Mulia

Akhlak mulia bagi peribadi unggul adalah hasil keimanan yang kental. Ini disebabkan tali ikatan yang menjalinkan hubungan antara individu dengan masyarakat terbentuk melalui nilai-nilai dan disiplin yang diamalkan oleh anggota masyarakat tersebut.
Sekiranya nilai yang diamalkan itu positif maka aka
n lahirlah sebuah masyarakat yang aman, damai, harmoni dan diselubungi roh Islam. Rasulullah saw adalah contoh utama pembentukan akhlak. Dalam sebuah hadith, baginda saw bersabda,
'Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia'.
( Riwayat Ahmad )

Beberapa nilai yang baik dalam akhlak Islam yang menjadi tonggak amalan bagi melahirkan individu ialah:

a) Amanah

Amanah adalah sifat mulia yang mesti diamalkan oleh setiap orang. Ia adalah asas ketahanan umat, kestabilan negara, kekuasaan, kehormatan dan roh kepada keadilan. Firman Allah swt:
' Maka tunaikanlah oleh orang yang diamanahkan itu akan amanahnya dan bertaqwalah kepada Allah, Tuhannya'.
( Surah al-Baqarah : 283 )

b) Ikhlas

Ikhlas adalah inti setiap ibadah dan perbuatan. Firman Allah swt:
' Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepada-Nya '.
( Surah al-Bayyinah : 5 )

Ikhlas akan menghasilkan kemenangan dan kejayaan. Masyarakat yang mengamalkan sifat ikhlas akan mencapai kebaikan dunia dan akhirat, bersih daripada sifat kerendahan dan mencapai perpaduan, persaudaraan, perdamaian dan kesejahteraan. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud,
' Bahagialah dengan limpahan kebaikan bagi orang-orang yang bila dihadiri (berada dalam kumpulan) tidak dikenali, tetapi apabila tidak hadir tidak pula kehilangan. Mereka itulah pelita hidayat. Tersisih daripada mereka segala fitnah dan angkara orang yang zalim'.
( Riwayat Imam al-Baihaqi )

c) Tekun

Islam menggalakkkan umatnya supaya tekun apabila melakukan sesuatu pekerjaan sehingga selesai dan berjaya. Sabda Rasulullah saw,
' Sesungguhnya Allah swt menyukai apabila seseorang kamu bekerja dia melakukan dengan tekun'.
( Riwayat Abu daud )

Sifat tekun akan meningkatkan produktiviti ummah, melahirkan suasana kerja yang aman dan memberi kesan yang baik kepada masyarakat.

d) Berdisiplin

Berdisiplin dalam menjalankan sesuatu kerja akan dapat menghasilkan mutu kerja yang cemerlang. Hasrat negara untuk maju dan cemerlang akan dapat dicapai denga lebih cepat lagi.
Dengan berdisiplin seseorang itu akan dapat menguatkan pegangannya terhadap ajaran agama dan menghasilkan mutu kerja yang cemerlang.

e) Bersyukur

Bersyukur dalam konteks peribadi unggul berlaku dalam dua keadaan: pertama; sebagai tanda kerendahan hati terhadap segala nikmat yang diberikan oleh Pencipta sama ada sedikit atau banyak, kedua; bersyukur sesama makhluk sebagai ketetapan daripada Allah swt supaya kebajikan sentiasa dibalas dengan kebajikan. Allah swt berfirman:
' Demi sesungguhnya jika kamu bersyukur maka Aku akan tambahkan nikmat-Ku kepada kamu dan sekiranya kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku amatlah keras'.
( Surah Ibrahim : 7 )

f) sabar
Di dalam menghadapi cabaran hidup, kesabaran amat penting untuk membentuk peribadi unggul seperti yang dikehendaki Allah swt. Firman Allah swt :
' Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara kebajikan) dan kuatkanlah kesabaran kamu (lebih daripada kesabaran musuh di medan perjuangan) dan bersedialah (dengan kekiuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu berjaya'.
(Surah Ali Imran : 200)

g) Adil

Adil bermaksud meletakkan sesuatu pada tempatnya. Para ulama membahagikan adil kepada beberapa peringkat iaitu adil terhadap diri sendiri, orang bawahan, pemimpin atasan dan juga sesama saudara. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud,

'Tiga perkara yang menyelamatkan iaitu takut kepada Allah ketika bersendirian dan di khalayak ramai, berlaku adil pada ketika suka dan marah dan berjimat cermat ketika susah dan senang; dan tiga perkara yang membinasakan iaitu mengikut hawa nafsu, terlampau bakhil dan kagum seseorang dengan dirinya sendiri'.
(Riwayat Abu Syeikh)http://alvakry.blogspot.com/

Jumat, 24 September 2010

Skenario Manusia Unggul ala Bambang DH

'MENCETAK manusia-manusia unggul' untuk Indonesia. Inilah skenario besar yang diharapkan Wakil Ketua Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Drs Bambang DH MPd, bisa dikerjakan secara multidimensional oleh para caleg terpilih 2009-2014 dan para kader dan jajaran struktural. Tema besar untuk seluruh kerja caleg dan pekerja partai lainnya selama lima sampai sepuluh tahun ke depan ini diusulkan Bambang DH saat Rakorda Sosialisasi Juklak DPP PDI Perjuangan dan UU MPR, DPR, DPD dan DPRD serta Pembekalan Caleg Terpilih DPRD se-Jatim di Hotel Bumi Surabaya, Senin (10/8) lalu.

"Jika hendak dirumuskan, saya mengusulkan tema besar dari seluruh kerja kita dalam lima tahun bahkan hingga sepuluh tahun ke depan, adalah 'mencetak manusia-manusia unggul' untuk Indonesia. Inilah skenario besar yang harus dikerjakan secara multidimensional," ujar Bambang DH.

Dalam konteks pembangunan daerah, kata Bambang, keberpihakan kita terfokus pada manusia. Di mana setiap langkah pembangunan harus bisa ditarik garis yang jelas, rasional, untuk menyokong, mewadahi dan melahirkan sumber daya-sumber daya manusia baru yang unggul di masa depan. "Ini akan menjadi sumbangsih terbesar PDI Perjuangan bagi Indonesia," katanya.

Menurut dia, paradigma PDI Perjuangan harus jelas, bahwa partai nasionalis tidak berpihak pada gedung, jalan atau benda-benda mati yang lain, termasuk reproduksi kapital, melainkan terpusat pada manusia atau human centris. Inilah tema sentral yang sekarang tengah menggema di berbagai belahan dunia, di era global sekarang ini, menggantikan paradigma lama yang cenderung berwatak ekonomis dan material.

"Dan bukanlah pada akar partai kiita tertancap kuat, bahwa roh atau jiwa yang bersemayam pada seluruh gagasan ideologis Soekarno adalah bermuara pada pembelaan yang gigih terhadap harkat dan martabat manusia Indonesia yang semakin baik, maju, beradab dan punya kepribadian kuat," ungkap Bambang.

Implikasi paradigma itu, lanjut Ketua Panitia Rakorda tersebut, akan berlangsung sangat tajam. Bahwa setiap sen uang negara, yang dibelanjakan untuk keperluan pebangunan, harus bisa diuji apakah sungguh-sungguh bertujuan untuk pelayanan pada manusia yang lebih baik atau tidak? Atau sekadar program yang dibuat asal-asalan, misal untuk penghamburan uang negara, karena itu cenderung korup?

Paradigma tersebut, menurut Bambang, juga mendorong kita untuk mengontrol, memacu dan terlibat perencanaan pembangunan dengan lebih terinci, terukur, sekaligus multidimensi. Tapi satu sama lain aspek tidak parsial atau terpisah-pisah, melainkan terintegrasi secara baik.

Dia lantas membagi pengalamannya sebagai walikota di Surabaya. Proyek pavingisasi, pembenahan saluran air dan berbagai upaya penanggulangan banjir, perbaikan berbagai penerangan jalan umum di kampung-kampung, juga perluasan pelayanan ar bersih, jelas Bambang, adalah upaya terencana pihaknya untuk membangun pemukiman penduduk yang sehat dan bersih.

Bambang lantas menjelaskan alurnya, yakni pemukiman sehat dan bersih akan mengurangi tekanan mental warga, dan mengurangi konflik di tengah tekanan kehidupan yang keras. Lingkungan hidup yang main baik akan memberi subangsih pada kehidupan rumah tangga yang tenteram.

Anak-anak pun, imbuh Bambang, mendapatkan wahana yang damai untuk tumbuh dan belajar. Pada aspek lain, ditunjang pelayanan pendidikan yang murah dan semakin baik. Begitu pula perbaikan pelayanan kesehatan. Inilah yang dia maksudkan dengan pola terintegrasi tadi.

"Sekarang inilah saatnya PDI Perjuangan di setiap daerah menyusun skenario manusia unggul, yang berbasis pada kekuatan dan kondisi lokal. Namun di sisi lain mempunyai jangkauan visi ke depan. Skenario ini menjadi kompas atau penunjuk arah bagi kita semua tentang medan perjuangan yang bisa kita kerjakan di lingkup masing-masing," katanya. (pri)

Senin, 20 September 2010

MENJADI PRIBADI SEJATI

Firman Allah

Firman TUHAN Allah berkata:

Jagalah hatimu dengan kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan

(Amsal 4:23).

PENGANTAR

Menjadi pribadi sejati menjelaskan bahwa ada upaya bertanggungjawab untuk menghidupi dan membangun diri kearah kedewasaan yang olehnya akan menmpakkan nilai-nilai agung yang menjadi kebiasaan unggul yang membawa berkat bagi sesama.

MEMBANGUN DIRI MENJADI PRIBADI SEJATI

Membangun diri menjadi pribadi sejati dilandasi prinsip-prinsip yang dibangun di atas kebenaran Alkitab. Setiap orang yang menghendaki menjadi pribadi sejati, harus menekuni prinsip berikut, yang dihidupi secara bertanggungjawab.

1. Seorang pribadi sejati adalah dia yang memahami rancangan TUHAN Allah bagi diri-nya, hidupnya, rencana-nya, masa depan-nya, rumah tangga-nya, karir-nya, termasuk akhir hidup-nya, yang olehnya ia mengenal diri-nya dengan benar dan baik, sehingga ia dapat membuktikan diri sebagai pemimpin bijaksana.

2. Seorang pribadi sejati, harus menyadari bahwa ia perlu memaknai diri-nya, pengalaman-nya, dan pencapaian-nya, agar ia dapat memahami apa yang telah TUHAN kerjakan di dalam diri-nya, yang membuatnya hidup dalam rasa syukur, berendah hati sehingga hidup-nya dapat menjadi berkat bagi sesama.

3. 3. Seorang pribadi sejati, mengetahui bahwa “ia adalah pemimpin yang telah diberikan tempat, karena itu ia ada di atas,” dengan demikian, ia seharusnya memimpin dengan hati, berlandaskan kasih Kristus dan kebenaran kebaikan-Nya, untuk itu, ia perlu menjaga hati-nya guna melindungi kehendak, pikiran dan perasaan agar selaras dengan apa yang TUHAN kehendaki.

4. 4. Dalam hubungan dengan sesama, pribadi sejati harus mendahulukan hati, agar ia membuktikan bahwa ia berbudi luhur, sehingga ia gagal mendahulukan kepentingan diri-nya sendiri.

5. 5. Dalam hubungan dengan sesama, pribadi sejati yang memimpin dengan hati, berarti menggunakan kehendak baik, akal sehat dan perasaan tenang-senang dengan empati yang dalam, guna menyikapi apa saja, yang olehnya pemimpin menabur keberhasilan mengaraki jalan-nya.

6. 6. Dalam hubungan dengan sesama, pribadi sejati harus berupaya untuk mendahulukan kepentingan orang lain, yang olehnya ia sedang mendahulukan perhatian orang kepada-nya.

  1. Pribadi sejati memahami bahwa kesalahpahaman dalam hubungan antar orang dapat terjadi karena faktor komunikasi, pespektif dan penafsiran yang berbeda, karena itu, kepemimpinan yang dilakukan dengan hati harus ditampakkan dalam sikap, pikiran, kata-kata, perilaku serta perbuatan yang empatik serta toleran.
  2. Pribadi sejati selalu menyadari bahwa kalau dia di atas, itu adalah anugerah, karena waktunya akan datang dimana ia-pun akan di bawa, yang olehnya ia akan menyambutnya dengan rasa syukur dan menyikapinya dengan keyakinan bahwa apa yang ada pada-nya akan berguna lebih dari kearifan-nya.
  3. Pribadi sejati menyelami dengan dalam bahwa karena ia berada di atas, ia akan mudah terjebak untuk mengatas-ataskan diri dengan berbagai macam cara, dalam banyak hal, dengan demikian, ia senantiasa harus bersikap arif, mawas diri dan menyadari bahwa kepada-nya telah diberikan kuasa untuk berada di atas oleh sebab itu, ia tidak perlu merendahkan siapa pun, karena dengan merendahkan orang, ia sendirilah yang mendorong diri-nya ke bawah.
  4. Pribadi sejati menyadari bahwa ia berhasil sampai ke puncak tanpa melupakan bahwa ia berasal dari bawa, yang olehnya ia tidak akan memusingkan kalau saatnya ia nanti ke bawa, karena akan datang waktu itu, dimana ia akan ke bawa juga, namun ia tidak akan terbawa-bawa dengan sikap merugi, rasa kecewa atau pun frustrasi karena sindroma post-power.
  5. Pribadi sejati pada akhirnya menyadari bahwa “hidup-nya hanya satu dan satu kali,” karena itu apa yang dibuat-nya bernial abadi, dengan demikian, ia menetapkan untuk menabur kebaikan yang olehnya ia menuai kebaikan serta akan dikenang 1000 tahun.
  6. Pribadi sejati sesungguhnya memusingkan diri dengan sikap hatinya sendiri, dan tidak mengurus sikap orang lain, serta hal-hal kecil dan tidak berguna, kerena ia pada akhirnya akan memberkati 1000 generasi dengan hidup dan karya-karya-nya yang gemilang, serta memuliakan TUHAN Allah-nya.

Selamat menjadi Pribadi Sejati.

PRIBADI YANG UNGGUL

A.Pendahuluan
Sudah biasa dalam kehidupan kita sehari-hari disuguhi fakta kehancuran kepribadian bangsa, pakaian yang mengumbar aurat, kriminalitas yang semakin nekad, korupsi yang sulit menghukum pelakunya, tari-tarian seronok yang dianggap sebagai ekspresi pribadi dalam seni, kemusyrikin yang dibungkus secara halus dengan acara mistis, ghibah yang dibungkus indah dengan infotainment, zina diberi istilah manis dengan PSK (pekerja seks komersial) seolah-olah ini juga pekerjaan yang halal seperti pekerjaan lainnya, dan lain-lain. Sangat banyak jika diurut satu persatu.
Bangsa ini dianggap tidak lagi mempunyai kepribadian, tetapi telah mengekor dengan kebudayaan Barat yang kafir dan sekuler. Sehingga mereka menganjurkan agar kembali kepada akar budaya bangsa, yakni warisan leluhur nenek moyang. Apakah yang menentukan kepribadian seseorang; penampilannya dengan jas dan berdasi?; sederet gelar yang menempel didepan dan belakang namanya?, seabrek jabatan yang disandangnya? Lantas sebagai umat Islam, apakah betul jika ingin memiliki kepribadian yang unggul maka kita harus kembali kepada akar budaya bangsa yang merupakan warisan leluhur nenek moyang?
Salah satu nilai yang tertanam dalam kehidupan kaum Muslimin saat ini adalah nilai-nilai yang dikembangkan dalam bidang ilmu kejiwaan atau psikologi; antara lain tentang konsep kepribadian manusia yang sangat ditentukan oleh berbagai standar. Para ahli Barat banyak membicarakan konsep kepribadian dan nilai-nilai tinggi-rendahnya kepribadian tersebut. Konsep mereka menyatakan bahwa tinggi rendahnya kepribadian seseorang ditentukan oleh berbagai nilai seperti:
nilai-nilai fisik (bentuk tubuh, postur, cara berjalan, bentuk hidung, mata, letak tahi lalat, dsb.),
nilai-nilai non-fisik (bentuk pakaian, warna kesukaan, makanan-minuman, saat kelahiran, adat istiadat, dsb).
nilai-nilai genetik (orang tua pintar, seniman, dsb.)
nilai-nilai ekternal lainnya (pendidikan, kondisi sosial-politik, dsb.)
Walhasil, nilai-nilai tersebut pun semakin mempengaruhi kaum Muslimin dalam memandang kemulyaan dan kerendahan nilai kepribadian pada diri seseorang maupun masyarakat. Seseorang yang berpakaian ala Barat, santun dalam berkata, rapi, peduli lingkungan, disiplin, pemaaf, tepat waktu; dikatakan berkepribadian baik, menarik dan mulya, meskipun ia biasa mengkonsumsi minuman keras meski tidak sampai mabuk, hidup seatap dengan pasangannya atas dasar suka-sama suka, iapun memakan uang riba dan hasil perjudian (legal maupun tidak), dan ia cukup datang ke tempat-tempat ibadahnya pada saat-saat tertentu saja. Berbagai contoh lain tentang hal ini tentu mudah kita dapatkan di masyarakat. Apalagi kini bermunculan 'sekolah kepribadian' yang mengajarkan tentang 'kepribadian baik dan mulya' sesuai dengan nilai-nilai baik dan mulya menurut para pengajarnya; yakni masyarakat Barat.

Sebagai umat Islam, untuk membentuk kepribadian yang unggul tentu harus mengacu kepada Islam pula, karena islam merupakan agama yang sempurna yang mengatur sluruh aspek kehidupan tak terkecuali kepribadian seseorang firman Allah dalam surat almaidah ayat 3.

Bukan kembali kepada budaya leluhur atau sudut pandang para psikolog barat, karena dua hal tadi ciptaan manusia yang nyata-nyata tidak sempurna dan parameternya bisa berbeda disetiap daerah. Tetapi kalau parameternya Islam, maka pasti sempurna karena diciptakan oleh Sang Pencipta manusia sendiri, juga tidak berubah-ubah dan berlaku disetiap tempat dan zaman.
Sehingga seseorang yang mempunyai kepribadian Islam (syakhshiyah islamiyah), akan memancarkan suatu pribadi yang khas dalam dirinya, karena sistem Islam sendiri sangat khas dan sangat kontras dengan sistem kapitalis dan sosialis. Dengan kepribadian yang khas ini, sangat mudah membedakan seseorang Islam atau kafir, tidak seperti yang kita saksikan saat ini.
Disamping itu, sebagai muslim/muslimah tentu kita menginginkan bahagia didunia dan selamat diakhirat kelak. Tidak ada cara lain agar tujuan itu tercapai, selain meningkatkan pengetahuan keislaman (tsaqafah islamiyah) dan menjalankannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Atas dasar itu, maka makalah ini akan berusaha mengurai bagaimana sesungguhnya membentuk kepribadian yang unggul ditinjau dari sudut pandang islam, karena kami menyakini hanya dengan standar Islam kita bisa membentuk kepribadian yang unggul ( Syakhsiyyah Islamiyyah )
B.Arti Kepribadian Menurut Dr. Ibrahim Anis et. Al. (1972) dalam kitabnya Al Mu’jam Al Wasith hlm. 475 , syakhsiyah secara bahasa bermakna “shifaatun tumayyizu al-syakhsya min ghoirihi” (sifat atau karakter satu orang dengan yang lainya).
Menurut An-Nabhani (2000) kepribadian adalah perwujudan dari pola sikap/pola pikir (yakni bagaimana ia bersikap dan berpikir) dan pola tingkah laku (bagaimana ia bertingkah laku). Pola sikap seseorang ditunjukkan dengan sikap, pandangan atau pemikiran yang ada pada dirinya dalam mensikapi atau menanggapi berbagai pandangan dan pemikiran tertentu. Pola sikap pada diri seseorang tentu sangat ditentukan oleh 'nilai paling dasar' atau ideologi yang diyakininya. Dari pola sikap inilah bisa diketahui bagaimana sikap, pandangan atau pemikiran yang dikembangkan oleh seseorang atau yang digunakannya dalam menanggapi berbagai sikap, pandangan dan pemikiran yang ada di masyarakat sekitarnya. Misalnya, seseorang akan mengembangkan suatu ide/konsep; -seperti kebebasan, persamaan dan kesetaraan,- bila ideologi yang diyakininya membolehkan hal tersebut. Begitu pula sebaliknya, bila ideologinya melarang hal seperti itu.
Sedangkan 'pola tingkah laku' adalah perbuatan-perbuatan nyata yang dilakukan seseorang dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya (kebutuhan biologis maupun naluriahnya). Pola tingkah laku pada diri seseorang pun sangat ditentukan oleh 'nilai paling dasar' atau ideologi yang diyakininya. Seseorang akan makan-minum apa saja dalam memenuhi kebutuhan biologisnya bila ideologi yang diyakininya membolehkan hal itu. Seseorangpun akan memuaskan naluri seksualnya dengan cara apa saja bila ideologi yang diyakininya membolehkan hal itu. Dan ia pun akan mengatur aturan peribadahannya, tata cara berpakaiannya, tata cara bergaulnya dan berakhlak sesuai dengan keinginannya, bila ideologi yang diyakininya membolehkan hal itu. Begitu pula sebaliknya.
Walhasil, pola sikap dan pola tingkah laku inilah yang menentukan 'corak' kepribadian seseorang. Dan karena pola sikap dan pola tingkah laku ini sangat ditentukan oleh nilai dasar/ideologi yang diyakininya, maka 'corak' kepribadian seseorang memang sangat bergantung kepada ideologi/aqidah yang dianutnya. Ideologi/aqidah kapitalisme akan membentuk masyarakat berkepribadian kapitalisme-liberal. Ideologi sosialisme pasti akan membentuk kepribadian sosialisme-komunis. Sedangkan ideologi/aqidah Islam seharusnya menjadikan kaum Muslimin yang memeluk dan meyakininya, memiliki berkepribadian Islam.
Dalam bahasa yang lebih praktis, kepribadian (Syakhshiyah) terbentuk dari pola sikap (Aqliyah) dan pola tingkah laku (Nafsiyyah), yang kedua komponen tersebut terpancar dari ideologi (Aqidah) yang khas/ tertentu.
Dari sinilah maka ketika membahas tentang kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah) berarti berbicara tentang sejauh mana seseorang memiliki pola sikap yang Islami (Aqliyyah Islamiyyah) dan sejauh mana ia memiliki pola tingkah laku yang Islami (Nafsiyyah Islamiyyah).
Aqliyyah Islamiyyah hanya akan terbentuk dan menjadi kuat bila ia memiliki keyakinan yang benar dan kokoh terhadap aqidah Islamiyah dan ia memiliki ilmu-ilmu ke-Islaman yang cukup untuk bersikap terhadap berbagai ide, pandangan, konsep dan pemikiran yang ada di masyarakat; dimana semua pandangan dan konsep tersebut distandarisasi dengan ilmu dan nilai-nilai Islami.
Sedangkan Nafsiyyah Islamiyyah hanya akan terbentuk dan menjadi kuat bila seseorang menjadikan aturan-aturan Islam dalam memenuhi kebutuhan biologisnya (makan, minum, berpakaian, dsb.), maupun kebutuhan naluriahnya (beribadah, bergaul, bermasyarakat, berketurunan, dsb.).
Jadi, seseorang dikatakan memiliki syakhshiyah Islamiyah, jika ia memiliki aqliyah Islamiyah dan nafsiyah Islamiyah. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa bersikap/berfikir atas dasar pola berfikir Islami dan orang-orang yang senantiasa memenuhi kebutuhan jasmani dan nalurinya sesuai dengan aturan Islam, tidak mengikuti hawa nafsunya semata. Terlepas apakah ia memiliki syakhshiyah Islamiyah yang kuat atau yang lemah, yang jelas ia telah memiliki syakhshiyah/ kepribadian Islam. Hanya saja perlu dipahami disini, bahwa Islam tidak menganjurkan agar umatnya memiliki syakhshiyah Islamiyah sebatas ala kadarnya. Yang dibutuhkan Islam justeru orang-orang yang memiliki syakhshiyah Islamniyah yang kokoh; kuat aqidahnya, tinggi tingkat pemikirannya, tinggi pula tingkat ketaatannya terhadap ajaran Islam.

C.Langkah Menyusun Ke­pribadian Islam
Untuk menyusun kepriba­dian Islam dalam diri seseorang, langkah pertama yang harus diintroduksikan dan ditanamkan pada diri seseorang adalah aqi­dah Islam. Sehingga seseorang sadar bahwa dirinya adalah seorang muslim. Bukan seorang Kristen, bukan Katolik, bukan Budha, bukan Yahudi, bukan Hindu, dan bukan Athe­is. Pendeknya dia seorang mus­lim, bukan kafir. Ia bersaksi bah­wa tiada Tuhan yang patut di­sembah (laa ma’buuda) kecuali Allah, lailahaillallah. Dia juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw. adalah rasul utusan Allah. Artinya tidak, ada satu bentuk cara penyembahan (ibadah) ke­pada Allah, dalam arti sempit maupun umum, kecuali cara yang telah diterangkan dan di­contohkan oleh Sayyidina Mu­hammad rasulullah saw.
Iman kepada dua kalimat syahadat itu disadarinya sebagai iman kepada seluruh persoalan yang harus diimani menurut ajaran Islam, baik iman kepada sifat-sifat Allah dan asmaul hus­naNya, iman kepada para malai­kat-Nya, iman kepada kitab-ki­tab-Nya, iman kepada para Ra­sul utusan-Nya, iman kepada ha­ri kiamat, dan iman kepada qodlo dan qodar-Nya, yang baik mau­pun yang buruk.
Iman kepada hari akhir dia fahami sebagai tempat pertang­gungjawaban seluruh keimanan dengan segala konsekuensi dan konsistensi dalam kehidupan di dunia. Ia paham bahwa dunia adalah ladang menanam keba­jikan untuk dituai buahnya di akhirat. Sebaliknya, orang yang lalai akan ceroboh dan berbuat yang justru membahayakan diri­nya sendiri di akhirat nanti. Barang siapa menabur angin, akan menuai badai. Allah SWT memang menciptakan hidup dan mati ini untuk diuji siapa yang terbaik amalannya. Dia berfir­man:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS. Al Mulk 2).

Langkah kedua, adalah bertekad menjadikan aqidah Is­lam sebagai landasan (qoidah) dalam berfikir menilai segala se­suatu dan dijadikan landasan (qoidah) dalam bersikap dan ber­perilaku. Dengan tekad itu, telah seorang memiliki cara berfikir Islami (aqliyah Islamiyah) dan si­kap jiwa Islami (nafsiyah Isla­mi).
Dengan langkah kedua ini seorang muslim telah selesai dalam pembentukan kepribadian Islam (takwinus syakhshiyyah). Dia telah dikatakan telah memiliki kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyah) sekalipun baru tahap awal dalam berfikir secara Islami dan mengolah sikap jiwa secara Islami.
Seorang muslim sudah di­katakan sudah memiliki cara ber­fikir Islam walaupun belum bisa berbahasa Arab apalagi berijti­had seperti Imam As Syafi’I rahi­mahullah. Dia sudah dikatakan telah berfikir Islami walaupun baru tahu sholat lima waktu itu wajib, sholat berjama’ah di mas­jid itu lebih utama 25-27 kali da­ripada sholat di rumah, judi dan khomer serta undian itu adalah permainan syaithon yang harus dijauhi, menyuap maupun mene­rima suap itu hukumnya haram. Seorang yang berfikir Islami memang tidak disyaratkan mesti canggih dulu berfikirnya sema­cam Prof. Baiquni yang bisa menilai bahwa hukum Lavoisier tentang kekekalan massa (bah­wa massa suatu benda tidak da­pat diciptakan dan tidak dapat di­musnahkan) adalah bertenta­ngan dengan aqidah tauhid yang menyatakan bahwa semua yang ada di alam semesta, baik itu manusia, hewan, tumbuhan, air, batuan, mineral, energi, suhu, dan lain-lain adalah makhluk cip­taan Allah SWT.
Seorang muslim dikatakan telah memiliki sikap jiwa Islami apabila telah bertekad untuk me­ngubah sikap hidupnya secara total mengikuti Islam dan isti­qomah. Ketika ada orang me­minta nasihat kepada Rasulullah saw. yang dengan nasihat itu dia tidak bertanya lagi, beliau saw. menjawab:
قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Katakanlah aku beriman kepada Allah, lalu bersikaplah istiqomah (HR. Muslim).
Asal orang sudah bertekad seperti itu, dia dikatakan telah memiliki sikap jiwa Islami (naf­siyah islamiyah) sekalipun belum banyak beribadah. Sekalipun dia baru melaksanakan sholat wajib dan sedikit sholat sunnah. Se­kalipun dia baru belajar sholat tahajjud. Sekalipun dia baru be­lajar membaca Al Fatihah dan Qulhu. Sikap jiwa dan istiqomah untuk selalu mengendalikan perilaku dengan ajaran Islamlah yang membuat seorang memiliki sikap jiwa Islami. Rasulullah saw. bersabda:
لاَيُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ
Tiada beriman salah seorang di antara kamu sehingga memper­siapkan hawa nafsunya mengi­kuti ajaran Islam yang kubawa (HR. An Nawawi).

D.Meningkatkan Kualitas Kepribadian Islam

Namun untuk mencapai ke­sempurnaan hidup, agar men­jadi manusia yang lulus terbaik dalam ujian Allah SWT dalam kehidu­pan di dunia, seorang muslim ti­dak boleh hanya berhenti di te­kad atau status telah memiliki ke­pribadian Islam. Tapi dia harus memiliki tekad untuk menyem­purnakan dirinya menjadi muk­min yang muttaqin.
Oleh karena itu, langkah ketiga, seorang muslim itu mem­bina cara berfikir Islaminya de­ngan meningkatkan pengetahu­annya tentang ilmu-ilmu Islam, baik aqidah Islamiyah itu sendiri, Al Qur’an, As Sunnah, Tafsir ayat-ayat Al Qur’an, Fiqh, hadits, siroh, bahasa Arab dan lain-lain yang diperlukan untuk mening­katkan kualitas cara berfikirnya yang senantiasa menghubung­kan segala sesuatu yang difikir­kannya dengan informasi Islam.
Seorang muslim perlu me­nambah keyakinannya dengan tambahan pengetahuan tentang aqidah Islam dari Al Qur’an mau­pun As Sunnah. Dia akan mene­mukan Allah SWT menyatakan bahwa agama islamlah yang diridloi oleh Allah dan mencari agama selain Alloh adalah keru­gian yang besar. Dia SWT berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya (QS. Ali Imran 19).
Juga firman-Nya:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (QS. Ali Imran 85).

Dengan keyakinan ini dia akan menjaga keislamannya sampai akhir hayatnya sebagaimana tun­tunan Allah dalam firman-Nya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebe­nar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (QS. Ali Imran 102).
Untuk bisa sebenar-benar­nya taqwa dan beristiqomah sampai akhir hayat, maka sikap totalitas dalam hidup secara Islam harus dicanangkan. Seba­gaimana firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan ja­nganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS. Al Baqoroh 208).
Dia sadar harus menerima dan memahami petunjuk Allah yang berkaitan dengan sikap dan perilakunya secara total, tidak pilih-pilih. Sebab pilih-pilih akan membuat fatal, tersesat dari jalan Allah, dan berujung kepada kehi­naan dan kesengsaraan. Dari se­mangatnya membolak-balik lem­baran Al Qur’an seorang muslim akan menemukan firman-Nya:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ
Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian da­ripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pa­da hari kiamat mereka dikem­balikan kepada siksa yang sa­ngat berat (QS. Al Baqoroh 85).

E.Sifat-sifat Unik Pribadi Muslim Islami

Seorang muslim atau individu-individu kaum muslimin dengan aqidah yang mereka anut memang akan melahirkan sosok pribadi atau generasi yang berbeda dengan umat-umat lain. Al Qur’an menggelari mereka dengan sebutan khairu ummah, umat terbaik. Allah SWT berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imron 110).

Dalam ayat lain Allah SWT menjadikan mereka sebagai umat wasatho, umat adil dan pilihan. Dia berfirman:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia (QS. Al Baqoroh 143).

Bagaimana rincian karakte­istik dari manusia yang menda­atkan gelar yang paling top dalam kehidupan kemanusiaan, yakni khoiru umah dan umah wasatho, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam Kitab As Sakhshiyah Juz I/11-12 menulis bahwa seorang muslim yang telah terbentuk dalam dirinya asliyah islamiyah dan nafsiyah Islamiyah, akan memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
Dia ahli menjadi pemimpin sekaligus sanggup menjadi prajurit.
Dia mampu mengumpulkan sifat lembut dan keras.
Dia mampu mengumpulkan sifat zuhud dan sangat menikmati hidup.
Dia memahami hidup secara benar sehingga dapat mengu­sai dunia dengan sebenarnya dan senantiasa berupaya mengapai akhirat dengan ber­agai aktivitas yang mengantar­an kepada kesuksesan di akhirat.
Tidak materialisik seperti budak-budak dunia, namun juga tidak tenggelam pada sifat papa lara ala penganut Hindu.
Bengis dan kasar di medan pertempuran, namun rendah hati di saat patroli.
Mumpuni dalam pemerintahan, hukum fiqh, perdagangann, maupun politik.
Seorang abid atau hamba Allah yang khusyu’ dalam sholat, menjauhi perkataan yang tiada berguna, membayar zakat, menundukkan pan­dangan, memelihara amanat, memenuhi kesepakatan dalam perjanjian, melaksanakan janji yang diucapkan, dan berjihad fi sabilillah.
Itulah karakteristik seorang muslim yang telah memiliki kepri­badian Islami yang dibentuk oleh Islam dan dijadikannya sebagai kepribadian terbaik di antara anak manusia. Al Qur’an menyebut indikasi-indikasi dari pribadi-pribadi unggul itu tatkala menguraikan sifat-sifat sahabat Rasulullah, orang-orang mukmin (al mukminun), para hamba Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang (ibadurrahman), dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah (al mujahidin). Allah SWT berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka,.. (QS. AL Fath 29).

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ(1)الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ(2)وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ(3)وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ(4
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat,(QS. AL Mukminun 1-4).

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا(63)وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا(64)
Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. (QS. AL Furqon 63-64).
لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَأُولَئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(88)أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(89)
Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka syur­ga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah 88-89).

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu (QS. At Taubah 112).

F.Teladan Kepribadian Para Shahabat Dan Tabi'in
Ciri khas syakhshiyah pada shahabat dan tabi'in berbeda-beda sesuai dengan tingkatan ilmu, olah aqliyah, kemampuan hafalan Al-Quran dan hadits Rasul. Abu Ubaidah bin Jarrah merupakan salah seorang shahabat yang demikian teguh keimanannya. Beliau pantas menduduki jabatan Khalifah, sehingga Abu Bakar sendiri pernah mencalonkannya sebagai Khalifah dan menunjuknya ketika terjadi musyawarah di Tsaqifah Bani Sa'idah. Hal ini mengingat keahlian dan keamanahannya. Abu Ubaidah termasuk salah seorang shahabat yang menguasai dan hafal seluruhnya Al-Quran. Beliau mempunyai sifat amanah sehingga Rasulullah SAW memujinya.
"Sesungguhnya setiap ummat mem- punyai orang yang terpercaya dan orang yang terpercaya dalam ummatku adalah Abu Ubaidah" (HR. Bukhari).
Selain itu Beliau memiliki sifat terpuji, lapang dada dan tawadlu'. Sangat tepatlah apabila Khalifah Abu Bakar mengangkatnya sebagai pengelola Baitul Maal dan pada saat yang lain beliau dipercaya sebagai komandan pasukan untuk membebaskan Syam.
Di kalangan shahabat terkenal pula seorang dermawan bernama Thalhah bin Zubeir, yang oleh Rasulullah SAW pernah dijuliki Thalhah bin Khair (Talhah yang baik) dalam Perang Uhud. Karena kederma- wanannya ia juga mendapat gelar-gelar lain yang serupa, semisal Thalhah Fayyadl (Talhah yang pemurah) pada saat Perang Dzul 'Asyiroh, dalam Perang Khaibar. Beliau sering me- nyembelih unta untuk dibagikan kepada rakyat dan selalu menyediakan air untuk kepentingan umum. Beliau tak pernah lupa memenuhi kebutuhan setiap orang faqir yang ada di sekeliling kaumnya (Bani Tim) dan selalu melunasi hutang-hutang mereka. Rasulullah SAW bersabda:

"Setiap nabi mempunyai hawariy (pendamping) dan hawariku adalah Zubeir" (HR. Ahmad dengan isnad Hasan dalam "Al-Musnad" jilid I/89, dan Al-Hakim "Al-Mustadrak", jilid III/462).

Beliau tidak pernah absen dalam setiap peperangan sejak masa Nabi SAW sehingga masa Khalifah Utsman bin Affan. Demikian tinggi semangat jihadnya sehingga dengan lapang dada beliau menjual rumahnya untuk kepentingan jihad fi sabilillah.
Begitu pula dengan Abdurrahman bin Auf. Beliau adalah seorang dermawan yang memberikan sebagian besar hartanya untuk kepentingan jihad fi sabilillah, Az-Zuhri telah meriwayatkan.
"Abdurrahman bin Auf menanggung seluruh ahli Madinah. 1/3 penduduknya diberi pinjaman, 1/3 lainnya membayar pinjamannya, sedangkan 1/3 sisanya diberikan sebagai pemberian" (Lihat "Siar A'lam An-Nubala", karangan Imam Adz-Dzahabi jilid I/88).
Di antara shahabat yang mempunyai keahlian di bidang pemerintahan dan peren- canaan tata kota dalah Utbah bin Hazwan. Beliau diangkat oleh Umar bin Khaththab sebagai wali sekaligus menata Kota Basrah. Ada pula shahabat yang terkenal ahli berpidato adalah Tsabit bin Qo'is, Abdullah bin Rawabah, Hasan bin Tsabit dan Ka'ab bin Malik. Dan tidak ketinggalan, shahabat Utsman bin Affan yang terkenal dengan sifat pemalunya, sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya malaikatpun merasa malu kepadanya"

Shahabat Khabab bin Mudzir, terkenal dengan kecermatan pendapatnya sehingga digelari Dzir Ro'yi (intelektual).
Masih ada empat orang shahabat yang terkenal kecerdikannya, yaitu Mua'wiyah bin Abu Sufyan yang memiliki jiwa tenang dan lapang dada, Amr bin Ash yang ahli memecahkan masalah pelik dan cepat berfikirnya, Mughiroh bin Syu'bah yang mampu memecahkan masalah besar dan genting, serta Ziyad yang ahli dalam meng- hadapi masalah kecil maupun besar.
Selain itu di masa shahabat terdapat seorang shahabat yang mampu berbicara dalam seratus bahasa. Ini merupakan kemampuan yang tak tertandingi oleh bangsa atau umat manapun hingga kini. Beliau adalah Abdullah bin Zubeir. Adapun shahabat Zaid bin Tsabit mempunyai keahlian dalam bidang qadha/kehakiman dan fatwa. Shahabat yang ahli dalam masalah pengkajian kitab Taurat adalah Abdullah bin Amr bin Ash dan Abil Jalad Al-Jauli.
Di masa shahabat, ilmu astronomi telah dikenal. Shahabat masyhur di bidang ini adalah Rabi' bin Ziyad, sampai-sampai Ibnu Jahar dalam bukunya Al-Ishobah mengatakan :
"Tidak ada seorangpun, baik itu Arab maupun bukan ('ajam), yang ahli di bidang ini selain Rabi' bin Ziyad."
Pada masa tabi'in tersebutlah Khalid bin Yazid bin Mu'awiyah yang ahli dalam berbagai cabang ilmu di kalangan Quraisy. Lebih spesifik lagi, keahlian beliau disebutkan dalam buku Walfiyat Al-A'yan karangan Ibnu Malikan jilid I/168 : "Beliau memiliki keahlian dalam bidang teori kimia dan kedokteran".
Beliaupun banyak menerjemahkan berbagai literatur mengenai astronomi, kedok- teran dan kimia (lihat Al-Jahis, At-Tibyan, jilidI/126).
Banyak lagi shahabat yang memiliki kemampuan dan keahlian dalam berbagai disiplin ilmu. Tentu saja apabila hendak kita sebutkan satu persatu memerlukan pem- bahasan yang amat panjang.
G.Kesimpulan
Tentu saja seorang muslim tidak ingin hidup hina di dunia dan sengsara di akhirat. Sem­boyan seorang muslim tentunya adalah hidup mulia dan mati syahid. Oleh karena itu, dia akan berjuang sekuat tenaga untuk menjadi manusia yang mulia de­ngan ilmu Allah SWT dan de­ngan ketaqwaan yang dihiaskan dalam dirinya. Secara serius dia mengkaji Islam dan belajar bahasa Arab bukan hanya untuk mengisi waktu yang luang atau hanya untuk kepauasan batin semata, tetapi semata-mata untuk mema­hami Al Qur’an dan As Sunnah supaya bisa melaksanakan keta­atan lebih sempurna. Dengan itu kepribadiannya akan sempurna. Wallahu a’lam bis showab!

PANGDAM III/SILIWANGI : PRAMUKA MEMBENTUK PRIBADI YANG UNGGUL DAN BERKUALITAS

Sebanyak 454 anggota pramuka mengikuti Perkemahan Bakti Saka Wira Kartika tahun 2010 yang akan berlangsung selama tiga hari, Jumat (30/7) s.d. Minggu (1/8), di Dodik Secaba Rindam III/Siliwangi, Sindanglaya Bihbul Arcamanik, Bandung.

Anggota Pramuka yang mengikuti Perkemahan selain dari Saka Wira Kartika TNI AD Se-Wilayah Jawa Barat dan Banten, juga diikuti oleh unsure gerakan pramuka dari Saka Bahari TNI AL, Saka Dirgantara TNI AU, Saka Bhayangkara Polri, Saka Wana Bakti Perhutani, Saka Bakti Husada Dinkes, Saka Kencana BKKBN dan Saka Taruna Bumi Distan. Perkemahan Bakti Saka Wirakartika dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf sebagai Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Provinsi Jawa Barat bersama Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo selaku Ketua Mabida Saka Wira Kartika Kodam III/Siliwangi di lapangan Dodik Secaba Rindam III/Siliwangi Bihbul Bandung, Jumat (30/07).

Hadir dalam kesempatan itu, Aster Kasad, Kasdam III/Siliwangi Brigjen TNI Hadi Lukmono, Kasgar Tap-II Bandung Masma TNI Wahyudin K., para pejabat Kodam III/Slw, para pejabat Pemda dan Dinas Provinsi Jabar, para pejabat TNI - Polri, Wakil Walikota Cimahi, Wakil Ketua Persit Kartika Chandra Kirana PD III/Slw beserta pengurus serta unsur gerakan Pramuka Provinsi Jawa Barat.

Dalam pengarahannya, Pangdam III/Siliwangi selaku Ketua Mabida Saka Wira Kartika Kodam III/Siliwangi mengharapkan agar kegiatan kepramukaan dijadikan sebagai tempat persemaian bagi tumbuhnya kesadaran bela negara di kalangan generasi muda, sekaligus dapat menjadi salah satu kekuatan komponen cadangan dalam upaya bela Negara dan pertahanan Negara.

Lebih lanjut Pangdam menekankan sebagai generasi muda yang memiliki semangat bela Negara hendaknya juga mampu diimplementasikan dalam wujud semangat belajar untuk meraih cita-cita, taat dan patuh terhadap hukum serta memiliki moralitas untuk senantiasa mengasisi semama dan menjunjung tinggi kebenaran. "Jika ini bisa diterapkan dalam kehidupan, maka setiap anggota pramuka akan menjadi pribadi yang unggul yang bermaanfaat bagi bangsa dan Negara di masa depan", tegas Pangdam. (Pendam 3/Dispenad)

Menjadi Pribadi Unggul Bersama Kecerdasan Emosional

”Saya Menganggap Orang Yang Bisa Mengatasi Keinginannya Lebih Berani Daripada Orang Yang Bisa Menaklukkan Musuhnya; Karena Kemenangan Yang Paling Sulit Diraih Adalah Kemenangan Atas Diri Sendiri.” – Aristoteles

Kecerdasan emosional berarti Anda harus memiliki kesadaran diri untuk melihat diri sendiri dan mengakui perasaan diri sendiri secara bijak; Anda harus mampu mengelola emosi dan menangani perasaan diri Anda sendiri agar sesuai dengan harapan dan keinginan Anda.

Di saat Anda menyatukan semua energi diri Anda dengan emosional Anda yang cerdas; Anda secara otomatis akan mendapatkan perasaan berani dan percaya diri, untuk mewujudkan harapan dan impian, dengan menaklukkan semua hambatan dan tantangan. Artinya, Anda akan berjalan terus untuk meraih semua impian Anda, tanpa takut, dan tanpa memiliki perasaan bosan atau pun menyerah.

Kecerdasan emosional akan mengatasi perasaan takut,marah, sedih, tidak percaya diri, dan menggantinya dengan perasaan memiliki, damai, bahagia, senang, sehat, sejahtera, dan terhormat.

Tetapi, Anda harus ingat bahwa perasaan manusia sengat labil. Artinya, untuk memiliki kecerdasan emosional tidaklah perkara gampang, diperlukan latihan dan motivasi secara terus-menerus. Setiap saat Anda harus mengisi energi motivasi ke dalam emosi Anda, agar emosi Anda bisa selalu mendapatkan tenaga positif untuk tetap stabil bersama nilai-nilai kehidupan yang membuat emosi Anda cerdas.

Saya pribadi mengenal pengetahuan kecerdasan emosional sudah lebih dari sepuluh tahun; termasuk sudah sering menulis, mengajar, dan melakukan riset, tapi sampai hari ini masih banyak misteri-misteri emosional diri kita yang tidak mudah untuk dipecahkan. Artinya, Anda tidak boleh berhenti atau merasa tidak mampu dalam mencerdaskan emosional Anda. Selama Anda antusias dan memiliki tekad untuk menyalurkan emosi Anda ke dalam pelayanan kehidupan Anda yang bertujuan positif, maka Anda pasti dapat mengontrol emosi diri Anda dengan baik.

Miliki empati terhadap semua hal-hal terbaik dan nilai-nilai kehidupan terbaik. Fokuskan diri Anda untuk menjalani pola hidup yang melihat semua hal dari perasaan positif dan pikiran positif. Lalu, miliki sensitivitas untuk menjalani hubungan dengan siapa pun dan apa pun dalam perasaan positif dan syukur.

”Kecerdasan Emosional Tidak Muncul Begitu Saja. Kecerdasan Emosional Adalah Hasil Dari Segala Kebaikan Diri, Pikiran Positif, Kerja Keras, Dedikasi Kepada Keseimbangan Hidup Yang Tak Pernah Terhenti Oleh Badai Kehidupan Apa Pun.” – Djajendra